The Survivorship Bias
bahaya hanya melihat pemenang tanpa menghitung ribuan orang yang gagal di jalan yang sama
Pernahkah kita membaca buku biografi orang sukses dan tiba-tiba merasa bisa menaklukkan dunia? Kita melihat sosok seperti Mark Zuckerberg atau Bill Gates. Keduanya berstatus dropout dari kampus ternama dan berhasil menjadi miliarder dunia. Tiba-tiba, rutinitas kuliah atau pekerjaan kita saat ini terasa seperti buang-buang waktu. Jika mereka berani mengambil risiko dan menang besar, kenapa kita tidak? Narasi semacam ini sangat memabukkan. Tapi tunggu sebentar. Mari kita rem sedikit euforia ini. Sebelum kita buru-buru membuang semua rencana hidup kita demi meniru para pemenang, ada sebuah jebakan psikologis tersembunyi yang sedang mempermainkan otak kita.
Untuk memahami jebakan ini, saya ingin mengajak teman-teman mundur sejenak ke masa Perang Dunia II. Saat itu, militer Amerika Serikat punya satu dilema besar. Banyak pesawat tempur bomber mereka yang ditembak jatuh oleh musuh. Untuk menekan angka kematian pilot, mereka berencana menambahkan pelat baja pelindung pada pesawat-pesawat tersebut. Tapi baja itu sangat berat. Jika seluruh badan pesawat dilapisi baja, pesawat tidak akan bisa terbang tinggi atau bermanuver. Jadi, militer harus memilih titik-titik krusial saja untuk dilindungi. Para jenderal kemudian mengumpulkan data lapangan. Mereka memeriksa dengan teliti semua pesawat yang berhasil pulang dengan selamat dari medan tempur. Mereka mencatat di mana saja peluru musuh menembus badan pesawat. Hasilnya terlihat sangat jelas. Kebanyakan lubang peluru menumpuk di bagian sayap, badan tengah, dan ekor pesawat.
Keputusan para jenderal tampaknya sangat logis dan berbasis data. Mereka merancang perintah: "Pasang pelat baja ekstra di sayap dan ekor, karena di situlah pesawat kita paling sering tertembak musuh!" Masuk akal, bukan? Namun, di tengah ruangan yang dipenuhi jenderal berbintang itu, seorang ahli matematika bernama Abraham Wald mengangkat tangan. Dia melihat kumpulan data yang persis sama, tapi kesimpulan yang dia tarik justru 180 derajat berbeda. Wald mengatakan bahwa rencana militer itu salah besar dan justru akan membunuh lebih banyak pilot. Dia memperingatkan mereka dengan keras untuk tidak menaruh baja di tempat yang banyak lubang pelurunya. Pertanyaannya, kenapa? Apa rahasia mematikan yang dilihat oleh seorang ahli statistik, yang justru luput dari pandangan para jenderal perang berpengalaman? Dan apa hubungannya semua ini dengan obsesi kita pada miliarder yang dropout dari kampus?
Di sinilah letak kejeniusan otak Abraham Wald bekerja. Dia menyadarkan para jenderal akan satu fakta yang brutal. Pesawat-pesawat berlubang yang mereka periksa di hanggar adalah pesawat yang selamat. Artinya, kerusakan di sayap dan ekor membuktikan bahwa pesawat masih sanggup terbang pulang meskipun tertembak di area tersebut. Lalu, di mana pesawat yang tertembak di bagian mesin atau tangki bahan bakar? Mereka tidak ada di hanggar. Mereka hancur berkeping-keping dan jatuh di wilayah musuh. Wald menyimpulkan sebuah kebenaran pahit: pasanglah baja pelindung di area yang tidak ada lubang pelurunya. Karena pesawat yang tertembak di sana, tidak pernah pulang untuk menceritakan kisahnya.
Fenomena inilah yang dalam dunia sains dan psikologi kognitif disebut sebagai Survivorship Bias atau Bias Kebertahanan. Secara evolusioner, otak manusia diprogram untuk hanya fokus pada hal-hal yang "selamat", "menang", atau terlihat di depan mata kita. Akibatnya, kita menjadi buta secara logis terhadap ribuan kegagalan yang terkubur dalam diam. Kembali ke cerita Mark Zuckerberg di awal. Kita memuja para miliarder dropout. Kita membeli buku-buku mereka dan menguliti kebiasaan pagi mereka. Tapi kita lupa menghitung ribuan mahasiswa dropout lainnya di jalan yang sama, yang kini mungkin terlilit hutang, gagal membangun startup, dan tidak pernah diwawancarai oleh majalah bisnis manapun.
Bias ini sangat berbahaya karena membuat kita salah membaca realitas. Kita mengira resep kesuksesan itu tunggal dan pasti, padahal kita sedang menyingkirkan variabel krusial yang tidak kasat mata: keberuntungan, privilese, momentum waktu, dan bantuan tak terduga. Teman-teman, menyadari adanya Survivorship Bias bukan berarti kita harus menjadi pesimis, sinis, atau berhenti mengejar mimpi. Justru sebaliknya, ini adalah bentuk empati terdalam kepada diri kita sendiri.
Saat kita menghadapi kegagalan, bukan berarti kita kurang keras berusaha dibanding mereka yang sukses di luar sana. Kadang kala, jalan yang sama persis bisa menghasilkan nasib yang jauh berbeda. Jadi, silakan saja kita terus belajar dari para pemenang. Tapi sesekali, mari kita luangkan waktu untuk menengok nasib "pesawat-pesawat yang tidak pernah pulang". Karena di dalam keheningan kegagalan mereka, sering kali terdapat pelajaran tentang bertahan hidup yang jauh lebih masuk akal, dan pastinya, jauh lebih jujur.